Namanya Hasan Sama Ae, kami biasa memanggilnya dengan Hasan walalaupun ada juga yang memanggilnya dengan Sama Ae. Hasan berasal dari Negeri Gajah Putih atau Thailand, tepatnya di daerah Pattani.Ya! dia mahasiswa asing yang kuliah di kampusku, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Di dalam kelas, dia “cukup aktif”… Kenapa cukup? karena yang aku tangkap dari Hasan adalah adakalanya dia ingin ngomong dan bertanya tapi mulutnya tetap diam, sedangkan gelagatnya bertentangan. Itu pandangan aku saja sih…mungkin bisa lain lagi ceritanya kalau tanya langsung sama dia, ehehe

Ada cerita lucu.

hasan
Ketika mahasiwa Thailand menjadi dosen Pancasila.

Pernah suatu ketika, dimana dosen Pancasila kami berhalangan hadir, sedangkan tugas untuk presentasi tetap berjalan, salah satu temanku berkata, “Eh, awas ada dosennya di belakang!” sontak kami tengoklah ke belakang.

“Hehehehe,” kami tersenyum dan sedikit tertawa.

Dengan style-nya yang kece dan wajahnya dewasa layaknya seorang dosen, yang dimaksud “dosennya di belakang” oleh temenku adalah si Hasan ini.

“Ayoook, bapak dosen di depan.” Aku menambah gurauan temenku tadi.

Lucunya, ternyata dia mau maju ke depan, sambil tersenyum-senyum duduk di kursi dosen. Lantas semua temen-temen tertawa, tak terkecuali juga yang lagi presentasi.

Salah seorang temenku berkata, “Iyaah, ada bapak dosennya nanti kalau ada pertanyaan bisa ditanyakan.”

Mendengar perkataan tadi, Hasan langsung lari, “Wah kalau ada pertanyaan saya gak bisa.”

Kenapa? karena makulnya adalah Pancasila, dengan tema Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia. Ya! bisa dibayangkan apa jadinya kalau ada seorang “dosen” asli Thailand menjawab dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswanya. Ehehe.

Tetapi, dosen Pancasila kami yang real memberikan peluang dan memprioritaskan serta tanggapan positif ketika Hasan bertanya tentang Pancasila, “Oke, si Hasan dulu… silahkan…”

(Lihat: Hasan rambut gondrong, wajah chinese dengan laptop merah)

Hasan juga pernah presentasi di depan kelas. Cukup baik dan “lucu” ketika ia presentasi. Misalnya ketika ia presentasi makul Fiqh Ibadah tentang zakat mal. Kata “perak” yang Hasan katakan menjadi “Perok” dengan aksen ala Melayu Thailand. Sontak temen-temen yang lain pada ketawa. Bukan maksud mengejek tetapi karena melihat gaya ketika dia bertutur kata.

Kalau dari terawanganku ia masih belum terbiasa dengan Bahasa Indonesia. Oleh karenanya kadangkala ia mengungkapkannya dengan ngomong dan gerak tubuh.

“Ora issuk, cok,” Perkataan inilah yang pernah membuatku tergelitik. Aslinya si Hasan pengin ngomong pake bahasa Jawa “ora iso” yang arti tidak bisa. ehehehe. Maklumlah~ batinku.