ngaji di Nottingham

Misuh, dalam budaya Jawa, misuh itu artinya mengumpat atau berkata kotor. Seperti kata MATA MU, JANCUK, RAIMU, KAKEAN MU.
Sama halnya dengan kata ‘BANGSAT’, dalam hasanah bahasa nasional kita. Umumnya, misuh itu ungkapan kekesalan, kejengkelan, makian, dan konco-konconya.
Tetapi, misuh juga bisa menjadi pertanda keakraban yang sudah akut.

Perasaan ku, aku jarang misuh. Apalagi, kalau misuhi orang lain. Seumur hidupku, saya pernah punya satu pengalaman misuh yang sangat menyejarah.
Waktu masih muda dulu, di dalam sebuah asrama santri yang sangat dekat dengan masjid. Aku terpaksa misuh, dalam keadaan masih dalam balutan sarung, baju koko, peci putih, dan berkalung sajadah, dan baru saja selasai jamaah isyak dari masjid.

Seonggok wajah putih, tertunduk malu, tersandar pada dinding lemari kayu bercat hijau. Amarahku sudah diubun-ubun, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut, kecuali dua kata: JANCUK, BAJINGAN! sambil kutampar kedua pipinya berkali-kali, hingga memerah pasrah tanpa perlawanan sama sekali. Kemudian terdiam tanpa kata…

View original post 84 more words