DSCN9660 copy

(Berpose seusai acara)

Malam itu Gus Hadad temanku  menyuruhku untuk menulis biodata singkat di selembaran kertas dan memintaku untuk mencari satu orang lagi. “Buat apa Gus?” aku bertanya. “Pelatihan jurnalistik. Dan tolong cari satu orang lagi karena si Rozak ndak ada, kalau sudah bisa diserahin ke aku lagi atau langsung ke pengurus ya!”

Akhirnya aku mendapatkan seseorang untuk menjadi ‘teman ngobrol’ di acara tadi setelah cukup susah mencari keberadaannya. Biodata pun selesai dan segera aku serahkan kepada kang pengurus. Dia hanya memberitahu bahwa besok pagi pukul tujuh siap otw.

Delegasi dari pondok pesantren kami akhirnya sampai di tempat acara, yaitu Pondok Pesantren Al-Hikmah Pedurungan Semarang. Empat orang yang terdiri dari dua pengurus dan dua santri, yaitu awakku dan Chistianto. Tapi apa yang terjadi? ya! seperti biasa jam Indonesia adalah jam karet. Jam yang bisa molor tanpa pemberitahuan. “Masih belum mulai, padahal tadi sudah dimolor-molorin.” Celetuk salah satu akang pengurus.

Kurang lebih pukul sembilan acara baru dimulai. Dua santriwati Pondok Al-Hikmah Pedurungan selaku tuan rumah dan moderator mengucapkan salam tanda dimulainya acara. Acara Opening ini diisi oleh beberapa orang penting yang berkaitan dengan acara ini.

DSCN9635(Acara pembukaan yang diisi oleh beberapa orang penting)

Sesi kedua diisi oleh dua orang wartawan Suara Merdeka yang terbilang senior, yaitu Mas Saronji dan Mas Hasan Hamid. Kedua orang inilah yang juga akan memaparkan kaidah-kaidah jurnalistik. Dimulai dengan Mas Hasan Hamid yang memaparkan ‘bagaimana sih membuat sebuah berita’.

“Berita adalah laporan atas peristiwa berdasarkan fakta yang menarik dan penting bagi masyarakat dan disebarkan melalui media.” Mas Hasan Hamid mengawalinya dengan memberikan pengertian apa itu berita. Dia juga mengatakan bahwa wartawan itu harus berteman baik dari mulai penjahat sampai para pejabat. Acara dijeda beberapa menit untuk istirahat dan sholat jum’at setelah beberapa waktu berlalu.

Setelah kami kenyang disuguhi makan siang acara pun dimulai kembali. Kami disuruh langsung action membuat sebuah berita sederhana. Setelah terkumpul Mas Hasan Hamid kemudian membacanya satu persatu, ya walaupun kenyataannya beritaku tak dibaca lantaran kepepet oleh waktu.

Giliran Mas Saronji sekarang. Dia memaparkan melalui sudut yang lain, membahas tentang berita yang di-online-kan. Mas Saronji ini ternyata layak disebut sebagai ustadz. Wawasan keislamannya luas ditambah dengan hafal beberapa macam kitab kuning. Sesi kali ini pun tak segaring sesi yang diisi oleh Mas Hasan Hamid tadi, karena memang Mas Saronji bisasedikit nge-banyol tapi dengan tampang polos. hehe

Acara yang bertajuk “Shortcourse Jurnalistik Santri Pondok Pesantren Angkatan I Di Pondok Pesantren Al-Hikmah (Membangkitlkan Jejaring Citizen Jurnalism Komunitas Santri)” ditutup oleh salah satu alumni dari Pondok Pesantren Futuhiyyah yang sekarang bekerja di Kementrian Agama Kota Semarang.

Acara Shortcourse  yang diadakan pada Jum’at 9 Oktober 2015 itu diadakan oleh Kanwil Kementrian Agama Provinsi Jawa Tengah. Di hadiri oleh beberapa santri dan ustadz perwakilan dari pondok-pondok pesantren disekitar Semarang Timur dan Kabupaten Demak. Ini adalah angkatan pertama, nantinya akan ada angkatan kedua (Kota Semarang dan Kabupaten Semarang) dan angkatan ketiga (Kota Semarang dan Kabupaten Kendal). Dari acara ini pula beberapa suvenir mendarat di kantong. hehehe

DSCN9639

(Dari Kanan: KH. Drs. Qodirun Nur pengasuh Ponpes Al-Hikmah, Pejabat dari Kementrian Agama Prov. Jateng. Pejabat dari Kementrian Agama Kota Semarang yang juga alumni Ponpes Futuhiyyah)

DSCN9649

(Mas Saronji dan salah satu pejabat dari Kementrian Agama mencoba mengatasi proyektor yang error)

DSCN9661 copy

(Chistianto berpose seusai acara)

sortcouse

(Salah satu buah tangan yang mendarat di kantongku)