12039909

Judul                : Ketika Tuhan Jatuh Cinta

Penulis             : Wahyu Sujani

Penerbit           : DIVA Press

Tahun Terbit    : Cetakan I, Juli 2009

Tebal               : 442 halaman

ISBN                : 979-963-802-X

 

“Langit adalah kitab yang terbentang,

Bumi adlah kitab yang terhampar,

Manusia adlah kitab yang berjalan,

Sedangkan al-Quran adalah cahaya di dalam kegelapan

Tidakkah kau renungkan bahwa segala intrik yang terjadi di dalam hidup,

Hingga meneteskan air mata adalah pertanda Ketika Tuhan Jatuh Cinta?”

Novel ini berkisah tentang perjalanan hidup seorang pemuda kelahiran negeri Parahyangan tepatnya bumi Paris Van Java bernama Fikri, ia merupakan seorang seniman pasir dan pembuat bingkai sekaligus mahir bersajak. Berbagai cobaan dan ujian harus Fikri lalui, mulai dari kandasnya kisah percintaannya dengan seorang mojang kampus yang telah lama menarik hatinya lantaran dihantam perjodohan.

“Malam …

Aku ingin bercumbu denganmu

Karena siang telah menikamku

Bulan …

Aku ingin memelukmu

Karena matahari telah menamparku

Fajar …

Aku ingin kau sentuh jiwaku yang sedang membara

Hingga terasa sejuk dengan hawamu

Dan senja …

Aku ingin jadi kekasih abadimu

Karena dalam jinggamu kudapati seutas jiwaku yang hilang asa …” (hal 139-140) sampai dengan dipanggilnya kedua bidadari yang sangat ia sayangi oleh Sang Kuasa. Namun ia tetap berdiri tegar dengan berbagai cobaan dan ujian yang bertubi-tubi menghujam. “Setiap kita mendapat ujian yang datang bertubi-tubi, pasti selalu tidak menyenangkan. Tapi, jika direnungkan, lalu disatukan dengan ilmu yang dimiliki, maka akan membawa kemaslahatan dunia dan akhirat. Kesimpulannya, pengalaman dan ilmu yang dimiliki, jika disatukan akan membuahkan kebahagiaan. Pucaknya, bisa membuka satu tabir rahasia kasih Ilahi.” (hal 278-279) petuah tersebutlah yang dihembuskan sang ibu yang selalu menggaung di jiwa Fikri. Semua ini harus ia terima dengan lapang dada yang mengantarkannya untuk menemukan ‘cinta sejatinya’,

“Dari cinta, kita berasal

Karena cinta-Nya, Dia menciptakan kita

Karena tujuan cinta, kita mendatangi-Nya

 

Cinta sejati tak lahir dalam satu kejap

Ia lahir bukan oleh paksaan

Cinta sejati berjalan lambat dan pelan

Ia berjalan dalam rentang panjang

Cinta sejati karena mantapnya niat dan teguhnya tujuan

Cinta sejati ta’kan sirna, ta’kan pudar tujuan …” (hal 163-164)

Penulis meracik novel ini dengan berbagi konflik yang mencerminkan jutaan konflik yang mendera anak-anak Adam dewasa ini. Dengan sastra yang kental karena memang lantar belakang penulis diselingi dengan ajaran-ajaran agama yang menjadi penawar di tengah letupan masalah yang bergejolak. “Mata boleh menangis, hati boleh bersedih, tapi kami tidak boleh mengucapkan kalimat yang membuat Tuhan murka.” (hal 318) Penulis menukil hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abbas.

Novel bertajuk Ketika Tuhan Jatuh Cinta ini layak dibaca oleh kita semua. Karena mengajarkan kita bagaimana sikap kita menghadpi hidup yang dirundung cobaan dan ujian yang bertubi-tubi. Merenungkan kehidupan. Kekuatan hidup dan Keshalihan hati yang hulunya adalah demi meraih ‘cinta sejati’.

 

 

 

Mranggen, Senin, 02 Maret 2015. 11.58 WIB

@Jibaskoro (Aji Baskoromof )