Wanita Berjuta Asa

Sebuah bangunan kotak hitam tinggi menjualang berdidri dengan gagahnya ditengah-tengah ribuan para jamaah. Berbagai macam warna kulit berputar mengelilinginya. Menundukan kepala beserta jiwa dan raga. Serta berbagai aktivitas lainnya yang hanya ditujukan kepada Sang Pemilik Alam Semesta. Sekarang aku adalah noktah yang tidak ada apanya.

*****

Rembulan masih berjaga. Sang surya belum memanggil. Serta burung-burung belum bernyanyian. Tetapi seorang wanita sudah bergelut dengan peluh dengan asa yang membanjiri sekujur tubuhnya. Setiap hari, hanya sendiri. Tulang ekornya mulai doyong ke belakang. Bahunya mulai merendah hendak mencium tanah. Serta kulitnya semakin bergelambir. Mencerminkan bahwa ia mulai rapuh dan bau akan tanah.

Disaat subuh menjelang, ia tidak pernah lupa membukaan mata Sang Pelita. Membuai rambutnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Matanya menyorotkan hamparan harapan dan berjuta asa. Dengan sekejap Sang Pelita pun membuka kedua mata.

Langkah kakinya melangkah dengan pasti, walaupun tubuhnya mulai doyong tapi kakinya menghentak tanah dengan gagah bak sorang perwira. Campingnya merangkap menjadi topi kebesarannya. Pikulannya menjadi ransel dan jepitnya merangkap menjadi sepatu kopral yang gagah.

Ditengah teriknya mentari ia masih menjajakan jamu tradisionalnya. Peluh mengalir dengan derasnya, membasahi kulitnya yang keriput. Bahkan kakinya harus berciuman dengan aspal yang menyengat karena japit udiknya yang terputus dikala menjajakan jamunya.

Menyusuri jalanan. Menapaki bebatuan. Mengintip gang demi gang. Menjajakan ke orang-orang dengan penuh kesabaran. Ketabahan. Dan penuh keikhlasan. Karena acapkali tolakan dan hinaan mendarat kepadanya.

Air mulai merembes di wajahku, mengucur bebas membasahi secarik kertas dan deretan kata. Mendung yang bergelut tak bisa lagi ku bendung. Burung-burung mulai mengepakkan sayap meningalkan aku sendirian menuju sarang di tengah hiruk-pikuk orang-orang. Mentari mulai menjorok menuju peristirahatan. Semburat cahaya keoranyeannya menciptakan sliuet dan kehangatan.

Semua ini ia lakukan demi sesuap nasi. Terutama sang pelita hati. Karena ia ditinggal sang suami yang lebih dulu menghadap Sang Illahi. Tak ada benda pun yang diwariskan, hanya sebuah gubuk mungil yang menjadi naungan untuknya dan sang pelitanya.

Sang Pelita adalah satu-satunya harta yang sangat amat berharga baginya. Dipundaknya jualah ia menaruhk satu-satunya harapan. Oleh karenanya ia melecut dirinya dengan berjuang sekuat tenaga. Kemasygulannya harus ia patahkan. Tanpa kenal lelah, waktu dan batasan.

Mungkin karena kobaran semangatnya yang sangat membara tak bisa dipadamkan mengantarkan ia ke tempat rehat untuk selamanya. Atau mungkin Tuhan sudah tak tega lagi sehingga mengasihinya untuk memberhentikan jerih payahnya. Kini ia telah menutup mata, untuk waktu yang lama. Dan meninggalkan Sang Pelitanya disaat ia beranjak remaja.

Rasanya pasukan semut menjalar ke seluruh tubuh menggetarkan tubuhku yang sedang asyik menikmati suasana sunset di Selat Borporus. Tetapi mendung kembali bergulungan dengan sangat legam. Laut Hitam yang mengaliri Selat Borporus pun kini benar-benar hitam. Hujan pun kembali mengguyur, membuncahkan air bahnya membasahi wajahku.

Bersambung →

Demak, 03 Desember 2014 (PP Futuhiyyah.)

© Jibaskoro Musafir of Life

Blog: https://imajibaskoro.wordpress.com/

Kompasiana: Jibaskoro