Menerjang Haluan

https://imajibaskoro.files.wordpress.com/2014/11/6708b-yutikarina.jpg

Namaku Murni. Tepat di tahun 2050 ini umurku genap tujuh belas tahun. Aku hidup di era kecanggihan teknologi yang sangat mupuni. Semua bisa digenggam dengan tangan. Secepat kedipan mata. Dan seluas jagat raya.

Bersamaan dengan canggihnya teknologi, manusianya justru mengalami kontradiksi. Mentuhankan akal logika sehingga hati hampa karena tak mengenal agama. Sistem riba yang semakin merajalela. Tikus-tikus berdasi yang semakin rakus. Serta semakin individualisnya setiap manusia, bahkan tak jarang ada yang tidak membutuhkan mausia lain lantaran menghamba pada benda rakitan dari besi.

Begitu juga dengan negara ini. Para penghuninya tak lagi mengenal fitrahnya. Sejarahnya. Dan tujuan hidup yang semestinya. Para pemuda-pemudinya tak lagi mengenal pahlawan dan nenek moyangnya. “Seorang remaja membakar foto Bapak Proklamator dengan alasan yang tak jelas. Bendera harus diganti karena sudah termakan zaman.” Kedua tajuk berita kontroversial yang menjadi teman dikala menyeruput teh hangat di pagi hari akhir-akhir ini membuktikan bahwa para penghuni negara ini tak lagi menghargai jasa para pahlawan.

Aku beruntung dilahirkan dari keluarga yang menantang haluan. Mengenal dan menghargai jasa para pahlawan adalah barang kewajiban. Pahlawan yang telah rela mengucurkan keringat dan darahnya dengan penuh keikhlasan. Demi sebuah kata: Merdeka.

Murni. Itulah nama depan sekaligus merangkap menjadi nama panjangku. Sangat kuno dan terdengar aneh di tahun 2050 ini. Tapi aku bangga dengannya. Karena nama ini adalah sebuah nama wasiat yang telah diwasiatkan dan tertuliskan oleh para nenek moyang keluargaku di dalam sebuah buku. Buku panduan yang harus dijunjung.

Karni. Aku terpranjat kaget ketika melihat nama tersebut tercetak di dalam buku tersebut ketika aku membalikkan halaman. Jika ditarik ke bawah ternyata aku masih keturunan Karni. Seorang pejuang wanita yang gigih membela dan mempertahankan tanah dari para pengeruk tanah. Para penjajah.

Dadaku sesak. Aliran darah semakin lihai mengalir. Hati bersorak, semuanya bersinergi menebalkan rasa banggaku pada keluarga. Sejarah negara. Terlebih perjuangan para pahlawan yang berjuang sekuat tenaga berasaskan cinta dan bela negara.

Tugasku adalah melanjutkan perjuangan para pahlawan. Ya! Melanjutkan. Melakukan segala sesuatu yang berbau positif serta melangkah dengan gagah untuk kemajuan. Walaupun harus menerjang haluan.

Demak, 16 November 2014

Aji Baskoro

XI MAK. MAF 1. PP. FUTUHIYYAH