image

Israel melepaskan roket. Hamas melawan. Korban bergelimpangan. Darah mengalir deras. Jerit, tangis, dentuman membaur membahana.
Orang-orang tak berdaya. Anak-anak dan wanita tak bernyawa. Free Palestine! Free Palestine!

Itulah kalimat-kalimat yang sekarang ini bergaung di telinga kita. Mengingatkanku juga pada sebuah buku yang telah aku lahap kurang-lebih satu tahun yang lalu. Resensi itulah post yang akan aku posting sehubungan dengan peristiwa-peristiwa di atas.

Tetapi sebelumnya, mari kita doakan saudara-saudara kita yang berada di Palestina sana, semoga diberi kekuatan, kesabaran, dan ktabahan.

اِلىٰ حَضْرَةِ النَّبِيِّ اْلمُصْطَفٰى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ وَاٰلِهٖ وَاَصْحَابِهٖ وَاَزْوَاجِهٖ وَاَوْلاَدِهٖ وَذُرِّيَّاتِهٖ اَجْمَعِيْنَ . اَلْفَاتِحَةُ

Judul: Purnama untuk Palestine
Pengarang: Vanny Chrisma W.
Penerbit: DIVA Press
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 286

Langit menangis untuk Palestine
Mungkin Allah . . . ,
Mungkin Allah . . . ,
Dialah Tuhan yang sebenar-benarnya,
Hidupkan sesuatu yang mati,
Diam, lunglai, menjadi mayat
Langit menangis, ketika gadis itu terdiam
Hujan yang jatuh tidak pada musimnya,
Tahukah kau hujan apa itu?
Ialah hujan tangis dari orang-orang Palestina
Untuk Palestine,
Tidak, sejujurnya ia tidak boleh mati.
Bahkan jika aku bisa membuat kisahnya
Menjadi hidup kembali,
Aku bisa seperti Tuhan,
Bisa! Sungguh!
Tapi, dia tetap saja diam . . .
Demi Tuhan, demi Allah yang mendengar
Semua tangis pecinta Palestina,
Janganlah Kau buat ia mati, secepat itu . . .
Kumohon, hidupkan dia,
Agar aku bisa menuliskan kembali,
Kisah hidup si gadis kecil di tepian itu
Kabulkan doaku, ya Tuhanku . . . .

Moniroth dalam tangis . . . .

Novel karangan Vanny Charisma W. Yang berjdul “Purnama untuk Palestine” ini merupakan kelanjutan kisah dari novel sebelumnya yang berjudul “Gadis Kecil di Tepi Gaza” yang mengisahkan perjuangan seorang gadis bernama Palestine.

Di novel ini, Palestine gadis periang dan pemberani ini menginjak masa remaja. Tetapi masa remajanya harus ia lewati ditengah gempuran dan dentuman bom di sana-sini.
Perjuangannya melawan para tentara zionis untuk menyelamatkan ayahnya sekaligus juga berjuang untuk kemerdekaan Palestina semakin masygul. Yahded ayah palestine ditawan dan dibui di kota Maskobeyya, Israel. Dikerangkeng tanpa pangan membuat lelaki itu semakin rapuh dan tak berdaya. Siapapun yang sudah masuk ke dalamnya pasti akan mati kering membusuk.
Kabar yang mengatakan bahwa, Yahded mati mengenaskan disantap anjing, membuat Palestine membisu berhari-hari.
Dikisahkan juga Palestine dibalut kain kafan, ia mati di dalam tenda pengungsian. Tubuh Palestine tak kuasa menahan dinginnya tenda pengungsian, kelaparan, dan kesakitan. Begitu juga orang-orang yang tak kuasa, nasibnya akan sepertinya. Namun, ia kembali membuka matanya ketika orang-orang meratapinya.
Sang penulis menceritakan kisah Palestine dengan epik, penuh intrik dan kemasygulan. Tak jarang banyak pembaca berlinang air mata. Tetapi novel ini juga berisikan tentang sebuah keberanian dan kesetiaan.
Kavernya cukup menarik dan sinkron. Bergambar bayangan seorang gadis dan masjid di Yerussalem melukiskan cerita dan latar yang terkandung di dalamnya.
Untuk Cerita selengkapnya baca saja “Purnama untuk Palestine” ini.