DSC_0360

 

Judul: Selimut Debu (Cover baru plus foto)

Pengarang: Agustinus Wibowo

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: 2011

Pembeli : Berapa harga kepala kambing ini?

Penjual : Lima puluh afghani.

Pembeli : Lima puluh? Terlalu Mahal! Dua puluh saja.

Penjual : Apa? Dua puluh afghani? Kamu gila? Kamu kira ini kepala manusia?

Afghanistan, siapa yang mendengar namanya pasti langsung merinding, negeri yang berbalut dengan kemelut akan perang. Bom. Al Qaeda. Dan kemiskinan yang semuanya tanpa pernah berhenti bak aliran Sungai Amu Darya yang melintasi negeri tersebut.


Tapi Afghanistan dimata seorang mahasiswa, sekaligus pengelana atau yang lebih mahsyur backpacker bukanlah negeri antah berantah yang selalu carut marut akan dunia hitam, dalam kaca matanya negeri tersebut justru memberikan lembaran putih yang sarat akan makna, dan keindahan. Dia adalah Agustinus Wibowo seorang lulusan Tsinghua University yang rela menyisihkan uang sakunya demi mimpinya mengelana menyusuri cakrawala dunia.

Buku pertama dari trilogi Selimut Debu inilah perjuangan seorang Agustinus di negeri perang tersebut akan dikupas, buku yang  membuka mata kita akan apa itu Afghanistan, negeri yang tertutup oleh khaak hitam sehingga mata kita juga tertutupi olehnya.

Mengenakan Salwar qamis. Melintasi Peshawar. Menembus Kabul. Hampir diperkosa oleh kaum red: Homoseks. Menunggu datangnya truk sampai berhari-hari lantaran jarangnya kendaran. Merasakan keramah-tamahan dan kehangatan warga. Terkoyak-koyak di atas truk bersama warga. Memanen bom yang tersebar di tanah lapang. Menghirup ladang opium.  Ditangkap polisi. Mendengar dentuman bom yang sudah ‘lumrah’. Sampai hendak menyebrangi sungai raksasa Amu Darya.

Serentetan peristiwa itulah yang Agus dapatkan,dan mungkin masih banyak lagi yang belum ia ceritakan yang pastinya sarat akan makna, tetapi yang paling mengena dalam diri Agus adalah, ketika ia mendapat sebuah pesan dari seorang pemuka kaum Ismaili.

Perjalanan Agus di negeri khaak harus berhenti ketika ia hendak menyebrangi Amu Darya, ia mencoba menapaki tapal batas negeri, mengintip negeri-negeri antah-berantah lainnya. Tetapi Agus dipersulit ketika ia hendak meminta sebuah buku hijau kecil, ia harus melewati birokrasi-birokrasi yang korup demi menapaki tapal batas negeri.