Screenshot_2014-02-13-12-18-36

Cerpen ini gw tulis disaat melirik bencana banjir bandang yang akhir-akhir ini menimpa negeri kita tercinta, hopefully para pembaca menyukainya, and  ditunggu kritik-sarannya🙂

dscn3025

Banjir Bandang

Tubuhku kaku, serasa aliran darah membeku, lidah menjadi kelu, mata melihat dengan sayu-sayu, nafas tersenggal-senggal sesak di dalam dada. Sejauh mata memandang kini yang terlihat hanyalah air, air coklat pekat yang tercampur dengan lumpur, ditambah dengan sampah-sampah yang mengapung, mulai dari plastik sampai batang pohon. Jalan yang dulunya berlapis aspal sekarang tertutupi air, pasar dan rumah-rumah yang biasanya ramai akan hiruk pikuk aktivitas orang kini yang terlihat hanyalah air.

Orang-orang berlinang air mata, harta, benda semuanya hanyut terseret air, bahkan sanak saudara merekapun hilang, entah kemana. Semuanya berduka tak ada lagi canda tawa, balitapun ikut merana, menangis dengan lantangnya, seolah mengerti akan apa yang diderita orang-orang.

Air adalah barang mutlak yang selalu mendampingi kita dalam berbagai sendi kehidupan, mulai dari minum, mencuci, sampai nanti ketika kita semua akan menghadap Sang Illahi, kita semua akan dimandikan oleh air. Air jugalah yang membuat tubuh kita bisa bergerak, karena dalam tubuh kita air adalah hal yang sangat diperlukan.

Karena air jugalah suatu peradaban bisa tumbuh menjadi peradaban yang besar, seperti Peradaban Mesopotamia yang disebut sebagai awal peradaban berada di antara sungai Tigris dan Euphrates. Peradaban Mesir Kuno bergantung pada sungai Nil. Semuanya mengikuti sumber air yakni berupa sungai.

Tapi kini air membuat luka yang dalam pada orang-orang, air telah merenggut semuanya, air datang dengan dahsyatnya, menerjang apa saja, rumah, pasar, sekolah, tempat ibadah semuanya sirna, air bah yang membuncah dengan sangat cepat, dan dahsyat, inilah banjir, banjir bandang yang sangat hebat. Yang datang secara tiba-tiba tanpa permisi.

Duhai Gusti, apakah ini semua salah kami? Kami yang tak bisa menjaga bumi ini? Kami semua adalah manusia serakah, manusia yang tak ada rasa syukurnya. Nikmat-nikmat-Mu telah kami lalaikan, amanat-amanat-Mu juga telah kami abaikan. Kami tak menjaga bumi, tetapi malah merusaknya, menebang pohon-pohon di hutan secara sembarang, membuang sampah sembarangan, dan masih banyak lagi yang kami lakukan. Ampunilah kami wahai Gusti.