Bau Buku Baru

image

“Ji, paketan bukunya sudah sampai!” kata ibu
“Dimana?”
“Tanya bapakmu!”
“Pak, paketan bukunya mana?”
“Di atas meja.” Sahut bapak
“Sampai jam berapa?”
“Tadi pagi, sekitar jam sepuluh.

Dengan segera saya mengambil paketan buku yang telah ditunjukan oleh bapak tadi, hatipun mulai lega karena yang ditunggu-tunggu telah tiba, “Wah, Alhamdulillah udah nyampe setelah sekian hari menunggu,” celoteh saya dalam hati.

Ya! Paketan buku itu adalah barang yang telah saya beli online di salah satu penerbit buku terkemuka, barang yang telah menambah daftar belanja online saya.  Rencananya saya akan melakukan pembayaran dengan mendatangi langsung salah satu bank terdekat, eh “Closed” terpampang didepan pintu, “Mungin karena Hari Jum’at mangkanya jam segini sudah tutup,” celoteh teman saya. Alhasil pinjemlah ATM temannya teman saya, yang saya sendiri juga nggak tahu batang hidungnya. Akhirnya saya mentrasfer melalui ATM temannya teman saya itu. Maklumlah karena saya belum mempunyai ATM sendiri. Segera saya menghubungi marketing penerbit tersebut dan medapat balasan bahwa barang akan segera dikirim, “Minta nomor resinya,” tanya saya, “Baik, diproses”.

Besoknya saya mulai menunggu, hari berikutnya sayapun masih betah menunggu, hari berikutnya saya masih sabar menunggu, sampalah pada hari ke-4 saya mencapai titik puncak kebosanan menunggu, hatipun mulai gundah, kapan sampai?, kapan sampai?, bad mood saya menunggunya. Hal ini lantaran kolesi buku maupun novel saya yang telah ludes dilahap. Hari ke-6 akhirnya barang yang di nanti-natikanpun tiba, dengan segera saya membuka perekat yang membalut paketan tersebut dengan sangat hati-hati, karena tak mau membuat plastik pembungkusnya robek alhasil saya mengambil  gunting. Dirogohnya kantong pembungus lalu isinya ditarik keluar, terlihatlah buku-buku yang telah lama saya nantikan, dadapun membumbung lega, setelah beberapa hari sesak lantaran menunggu buku-buku tersebut. “Barang sudah sampai, terima kasih,” saya kembali menghubungi marketing, yang mana di hari-hari menunggu barang sering saya ‘teror’ (maaf mbak/mas marketing hehe ;D), “Alhamdulillah,” balas marketing.

Maklumlah saya berkelakuan begitu karena saya baru kedua kali melakukan jual beli online, yang pertama juga dibuat pusing menunggunya sampai kurang lebih satu bulan molor dari yang di targetkan.

Tercium bau khas dari sebuah buku ketika saya membuka plastik pembungkusnya, bau yang menurut saya membuat hati ingin memeluknya, menimang-nimangnya, dan bau yang sesuatu (haha), bau itu membuncah ketika lembar demi lembar dibolak-balik, bau itupun akan pudar dengan sendirinya seiring dengan waktu, itulah bau buku baru.