Ini merupakan salah satu imaji gue, yang gue buat pas ada tugas, daripada cuma dapet nilai, alangkah baiknya juga bisa membawa manfaat khususnya bagi gue pribadi, maupun orang-orang yang tinggal di bumi maka dari itu cerpen kilat ini gue posting. ~Happy Reading~

image

Sang fajar mulai berpijar, menyorotkan sinar terangnya ke permukaan, seperti hari biasanya aku berseragam, berjalan beralaskan aspal menuju sekolah, hembusan angin pagi, segarnya embun pagi, dan kicauan burung yang menari-nari menjadi teman karibku diperjalanan.

Langkah demi langkah, akhirnya sampai di tempat segudang ilmu. Satu langkah kakiku melewati batas pintu, sejenak kuluruskan kaki kecilku, dan ku letakkan tas yang sedari tadi di punggungku.

Mual, pusing kurasakan, sejenak ku palingkan kedua penglihatanku kearah dinding, lho… lho… kok lukisan Imam Bonjol kuwi bergoyang tak karuan?, ada apa ini?, “Gempa… Gempa… Gempa Bumi…” teriakkan seseorang membuyarkan lamunanku.

Kanca-kanca ana Lindu…, juh padha metu…!” kuberlari tak berarah, mengikuti gelombang manusia yang saling berhamburan di jalanan,  tak tahu kemana…, lelah, akupun berdiam, bungkam membisu, menyaksikan kejadian ini, “Cah! Juh maring lapangan!“, seseorang menyeretku, menggegam erat lengan kecilku.

Lautan manusia, tumpah ruah memenuhi sudut-sudut tanah lapang, ada yang komat-kamit melantunkan do’a, ada yang menangis meneteskan air mata, dan ada yang berlarian tak karuan tanpa arah yang pasti.

25 menit Bumi berguncang, Bumi bergoyang, dengan dahsyat, dengan kuat, meluluhlantahkan bangunan, pepohonan, dan jalanan. Kalau Tuhan sudah ‘Kun Fayakun’ maka apapun akan terlaksana, manusia tak bisa berbuat apa-apa. Suara gemuruh itupun mulai mereda, menyisakan duka warga jogja.